MEDAN – Rabu malam 17 Juni 2026, Kedai Kopi Deli di Jalan Dolok Sanggul tak lagi sekadar tempat ngopi. Forum “Sembang-Sembang Tanah Deli” yang digagas Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan mengubahnya jadi panggung dialog budaya. Sekitar 80 peserta dari berbagai kalangan hadir, membuktikan konsep “Tiga Tungku Sejerangan” — pemerintah, masyarakat adat, dan masyarakat umum — masih relevan untuk menjawab tantangan zaman.
Sultan Deli Tuanku Mahmud Lamanjiji Perkasa Alam hadir langsung, memberi wibawa adat pada diskusi. Dari Pemko Medan, Kepala Bidang Kebudayaan Ok Zulfani Anhar membacakan pidato Wali Kota Rico Putra Bayu Waas yang menegaskan kebudayaan sebagai fondasi, bukan pelengkap. Kehadiran Ketua Komisi III DPRD Afif Abdilah, Sukronedi, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II, dan Wali Utama Majelis Kedatukan Melayu Batu Bara Dato’ Setiawangsa II melengkapi representasi lintas lembaga.
Forum ini juga mendapat sorotan internasional lewat kehadiran Konsulat Malaysia Tuan Ridzuan Abdul Djalil. Bersama tokoh Melayu Kota Medan, akademisi, dan komunitas budaya, diskusi mengalir dari sejarah Kesultanan Deli hingga cara menjaga bahasa dan adat di era media sosial. Semua setuju: melestarikan budaya tidak bisa jalan sendiri-sendiri.
Isu generasi muda jadi titik berat. Narasumber Prof. Ichwan Azhari dan Datin Dra. Iyes Hakim mengingatkan bahwa jati diri Melayu Deli akan kuat kalau anak muda diajak bicara, bukan hanya disuruh mendengar. Mereka mendorong kampus, komunitas, bahkan kedai kopi dijadikan ruang belajar hidup. Interaksi cair malam itu menunjukkan dialog lintas generasi justru melahirkan ide paling segar.
Sebelum ditutup, moderator menyampaikan pesan kunci: “Menjaga marwah budaya adalah kerja bersama kita semua.” “Sembang-Sembang Tanah Deli” diharapkan terus berlanjut sebagai jembatan komunikasi rutin antara Pemko Medan, Kesultanan Deli, dan masyarakat. Dari Dolok Sanggul malam itu, semangat baru untuk Melayu Deli mulai diseduh.
(R Ramadhan)

