PARIGI MOUTONG — Tidak beroperasinya sejumlah usaha penggergajian kayu atau somel di Kabupaten Parigi Moutong diduga berkaitan dengan kerugian usaha dan lesunya penjualan kayu. Kondisi tersebut menjadi salah satu persoalan yang dihadapi pelaku usaha kayu lokal di wilayah itu.
Hal tersebut terungkap saat media ini menemui dan mendengarkan langsung aspirasi salah seorang pengusaha kayu lokal di Kota Parigi, Rabu (13/9/2026).
Menurut pengusaha tersebut, salah satu faktor yang menyebabkan usaha somel tidak lagi berjalan adalah kerugian yang dialami pelaku usaha. Ia menilai, kondisi pasar yang sepi turut memengaruhi aktivitas pembelian dan penjualan kayu.
“Masalah penjualan, lihat saja di Kota Parigi, memang sepi,” ungkapnya.
Ia menambahkan, sebelumnya terdapat usaha somel yang beroperasi di wilayah tersebut. Namun, sejumlah usaha itu akhirnya berhenti beroperasi karena mengalami kesulitan dalam mempertahankan kegiatan usahanya. Ia juga menyinggung aktivitas pertambangan yang dinilainya turut memengaruhi peralihan kegiatan ekonomi masyarakat.
Di sisi lain, ia menilai kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Parigi Moutong masih menjadi persoalan yang cukup dominan dan kerap terjadi.
Meski demikian, menurutnya, kondisi karhutla tersebut tidak secara langsung memengaruhi keberlangsungan usaha kayu lokal yang masih beroperasi.
“Pengaruh ke kayu tidak ada. Semuanya pengusaha kayu lokal berjalan baik,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa aktivitas pengelolaan kayu di wilayah tersebut banyak bersumber dari hutan rakyat yang dikelola langsung oleh masyarakat.
Kondisi ini menunjukkan bahwa keberlangsungan usaha kayu lokal tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan bahan baku, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi pasar dan kemampuan pelaku usaha mempertahankan kegiatan ekonominya.
Karena itu, kondisi usaha somel yang tidak lagi beroperasi perlu dilihat lebih jauh melalui data jumlah usaha yang masih aktif, penyebab penutupan, serta perkembangan pemasaran kayu lokal di Kabupaten Parigi Moutong.( Yudha)


