MEDAN — Asap masakan, obrolan hangat, dan dentak Ronggeng Melayu Deli mewarnai MW Budaya Cafe & Resto, Jalan Setiabudi, Medan, Jumat (23/10/2026). Di tempat itu, 24 Tokoh Penggiat Kebudayaan Kota Medan 2026 berkumpul dalam kegiatan Sembang-Sembang Budaya Medan yang difasilitasi Rudi Oei.
Kegiatan ini dihadiri Kepala Bidang Kebudayaan Pemko Medan, OK Zulfani Anhar, serta Putra Putri Kebudayaan Kota Medan 2026. Para tokoh yang hadir merupakan penerima anugerah dari Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, pada Pekan Budaya Daerah Kota Medan, 8 Oktober 2026 lalu.
Berbeda dari seminar pada umumnya, pertemuan berlangsung tanpa kesan formal. Para peserta memasak dan makan bersama, kemudian berdiskusi dan berjoget bersama. Suasana tersebut menjadi penanda bahwa kebudayaan hidup melalui praktik sehari-hari, bukan hanya seremoni di atas panggung.
Di balik keakraban itu, persoalan serius dibahas. Para tokoh menyoroti masih rendahnya kesejahteraan seniman, terbatasnya akses pasar bagi karya budaya, lemahnya jejaring antarkomunitas, serta belum terbangunnya ekosistem budaya yang berkelanjutan di Kota Medan.
M. Muhar Omtatok menegaskan ada tiga hal mendesak yang harus diperjuangkan, yakni kesejahteraan pelaku budaya, akses ekonomi dan pasar, serta kekompakan antarkomunitas. Rudi Oei menambahkan, kebudayaan memiliki potensi ekonomi kreatif yang besar melalui festival, kerajinan, fesyen tradisional, dan pariwisata budaya, yang perlu didukung kemitraan nyata dari dunia usaha.
Pesan paling kuat dalam pertemuan datang dari Yose Piliang yang menyatakan, Medan tidak perlu menjadi Bali atau Yogyakarta, Medan harus menjadi Medan. Menurutnya, kekuatan budaya Medan harus dibangun dari sejarahnya sendiri dengan Melayu Deli sebagai akar penting di tengah keberagaman etnis.
Untuk mewujudkan itu, Yose menawarkan konsep 3 Akar + 1 Sayap. Tiga akar meliputi penghidupan ruang publik sebagai panggung budaya Tanah Deli, penguatan pendidikan seni melalui sanggar, dan pengembangan ekonomi kreatif yang memberi ruang usaha bagi seniman. Satu sayap adalah kemampuan adaptasi budaya agar menjangkau masyarakat lebih luas.
Menanggapi hal tersebut, OK Zulfani Anhar dari Pemko Medan menekankan perlunya sinergi antara pemerintah, komunitas, dan pelaku usaha dengan mengacu pada sepuluh Objek Pemajuan Kebudayaan. Sementara Dr. Jimmy Siahaan menilai ekosistem budaya harus dibangun secara utuh, mulai dari ruang berlatih, regenerasi komunitas, hingga jalur promosi dan pemasaran, agar tradisi tetap hidup dan mampu menghidupi para penjaganya.
(Red)


.jpg)

