BATU BARA — Di tengah pesatnya arus modernisasi, Kabupaten Batu Bara menegaskan sikap untuk mempertahankan warisan leluhur. Hal itu ditandai dengan Peringatan Hari Bertanjak Sedunia 2026 yang dirangkai Ziarah Makam Kedatukan Lima Laras di Istana Niat Lima Laras, Kecamatan Nibung Hangus, Rabu (16/9/2026).
Sekretaris Daerah Kabupaten Batu Bara, Rusian Heri, yang membacakan pidato resmi Bupati Batu Bara H. Baharuddin Siagian, menegaskan pemakaian tanjak tidak boleh dipandang sekadar seremoni. "Tanjak adalah lambang dan semangat khas kita masyarakat Batu Bara. Mewariskan semangat persatuan, kebersamaan, serta nilai-nilai adat dan budaya yang menjadi identitas, kekuatan, dan jati diri masyarakat Batu Bara sampai hari ini," tegasnya.
Rangkaian ziarah makam Kedatukan Lima Laras yang digelar pukul 14.00 WIB menjadi simbol pertautan masa lalu dan masa depan. Dalam amanatnya, Bupati mengingatkan Kedatukan Lima Laras merupakan akar sejarah masyarakat. Tanpa sejarah dan leluhur, masyarakat tidak akan mengetahui jati diri dan arah langkah ke depan, sehingga nilai-nilai luhur tersebut harus dijaga dan diamalkan.
Komitmen pelestarian itu dipertegas melalui agenda Pernyataan Sikap Bersama Mendukung Pelestarian Budaya pada pukul 16.00 WIB. Kegiatan yang diinisiasi Komunitas Batu Bara Bertanjak di bawah Ketua Haris Chandra dan Sekretaris Ruslan Absam, serta Ketua Panitia Darmawan dan Sekretaris Aidil Adha ini, menyatukan 34 elemen lembaga adat dan masyarakat, mulai dari LAM Batu Bara, Majelis Kedatukan Melayu Batu Bara, hingga himpunan seniman dan kepemudaan.
Semangat tersebut akan berlanjut pada Gebyar Batu Bara Bertanjak Jilid 7 yang dijadwalkan 10-16 Oktober 2026 di lokasi yang sama. Bupati menginstruksikan agar gebyar tidak hanya menjadi hiburan, melainkan menjadi wadah pembangkit semangat, promosi potensi daerah, pengembangan ekonomi rakyat, serta penguat identitas budaya dan kebanggaan sebagai warga Kabupaten Batu Bara, dengan menampilkan kekayaan budaya dari setiap penjuru wilayah.
(Red)



