OPINI – Pepatah "bahagia di rumah tidak akan jahat di kantor" ternyata punya dasar ilmiah. Sejumlah jurnal psikologi organisasi menyebut keharmonisan keluarga berdampak langsung pada perilaku karyawan di tempat kerja.
Teori Work-Family Spillover yang dikemukakan Greenhaus & Beutell pada 1985 menjelaskan bahwa emosi dari rumah akan "tumpah" ke kantor. Ketika seseorang mendapat dukungan dan suasana positif di rumah, maka mood dan energinya ikut terbawa saat bekerja. Sebaliknya, konflik rumah tangga berpotensi menimbulkan stres kerja.
Penelitian di Journal of Applied Psychology tahun 2004 juga menemukan bahwa dukungan keluarga meningkatkan kepuasan kerja, komitmen, dan menurunkan tingkat stres karyawan. Karyawan yang merasa didukung di rumah cenderung lebih fokus, kooperatif, dan produktif di kantor.
Lebih lanjut, jurnal Journal of Organizational Behavior tahun 1999 menyoroti hubungan antara frustrasi di rumah dengan perilaku menyimpang di kantor atau _Counterproductive Work Behavior_. Stres dari rumah tangga dapat memicu perilaku seperti datang terlambat, marah ke rekan kerja, hingga sabotase. Namun perilaku ini menurun signifikan pada karyawan yang memiliki hubungan keluarga yang baik.
Para ahli SDM menyimpulkan, menciptakan lingkungan rumah yang sehat bukan hanya urusan pribadi. Ini juga investasi perusahaan. Karyawan yang bahagia di rumah, akan lebih kecil kemungkinannya berlaku "jahat" di kantor dan lebih besar kontribusinya bagi organisasi.
(Red)



