KESEHATAN — Pijat injak punggung atau yang secara internasional dikenal sebagai Ashiatsu kini populer di spa–spa mewah. Namun jauh sebelum menjadi tren relaksasi, teknik ini adalah metode penyembuhan kuno. Alih-alih menggunakan tangan, terapis menggunakan beban tubuh melalui telapak kaki untuk memberikan tekanan dalam, luas, dan stabil ke otot-otot besar di punggung.
Sejarah teknik ini dapat ditelusuri hingga 3000 tahun lalu di Tiongkok. Dalam pengobatan tradisional Tiongkok dan latihan para biksu Shaolin, terdapat praktik “Zou Bu Tui Na” yang artinya "pijat dorong dengan berjalan". Kaki digunakan untuk menekan titik akupuntur dan meridian karena mampu menghasilkan tekanan 3 kali lebih besar dibanding tangan, sehingga efektif untuk otot punggung yang tebal. Hal ini sejalan dengan prinsip TCM tentang pelancaran Qi dan darah.
Di India, teknik serupa ditempat pengobatan Ayurveda dan seni bela diri Kalaripayattu dari Kerala. Guru akan menginjak punggung murid untuk meluruskan postur dan melancarkan aliran prana. Sementara di Thailand, Nuad Boran atau pijat tradisional Thailand sudah sejak abad ke-9 menggunakan kaki, lutut, dan siku. Terapis bahkan berpegangan pada tali di langit-langit untuk menjaga keseimbangan saat "berjalan" di tubuh klien. Studi di International Journal of Therapeutic Massage & Bodywork mencatat teknik ini efektif mengurangi nyeri punggung bawah kronis.
Di Filipina, para manghihilot tradisional telah berabad-abad menggunakan injakan kaki untuk mengatasi keseleo, otot tegang pada petani, dan meluruskan tulang. Praktik ini disebut bagian dari Hilot. Di Jepang, pengaruh dari Tiongkok melahirkan variasi pijat dengan kaki yang lebih lembut dan fokus pada keseimbangan energi, meskipun tidak sepopuler Shiatsu dengan tangan.
Istilah Ashiatsu baru muncul pada tahun 1996 di Amerika Serikat. Ashi berarti kaki dan Atsu berarti tekanan dalam Bahasa Jepang. Ruthie Piper Jams, seorang terapis pijat di California, memodernisasi teknik kuno ini dengan menambahkan meja pijat dan bar pegangan di atasnya untuk keamanan. Ia lalu mendirikan sekolah Ashiatsu Oriental Bar Therapy. Standarisasi inilah yang membuat teknik injak diterima secara profesional di industri spa dan terapi Barat.
Hingga kini sedikitnya ada 6 negara/wilayah yang memiliki budaya pijat injak yang hidup:
1. Tiongkok dengan Zou Bu Tui Na,
2. Thailand dengan Thai Foot Walking,
3. Filipina dengan Hilot.
4. India dengan Chavutti Thirumal dari Kerala,
5. Jepang dengan variasi Ashiatsu Shiatsu, dan
6. Amerika & Eropa dengan Ashiatsu Bar versi modern. Di Indonesia sendiri teknik ini juga dipraktikkan secara turun-temurun oleh terapis tradisional, khususnya di Jawa dan Sumatera, meski belum menggunakan nama "Ashiatsu".
Dari kuil Shaolin hingga spa modern, pijat injak punggung membuktikan bahwa kearifan lokal dapat beradaptasi dengan zaman. Tekanan dalam dari kaki tidak hanya membantu mengendurkan otot, tetapi juga mengurangi beban kerja tangan terapis sehingga mengurangi risiko cedera. Dengan akar sejarah yang kuat dan bukti ilmiah yang terus berkembang, Ashiatsu menjadi jembatan antara tradisi penyembuhan kuno dan kebutuhan terapi modern saat ini.
Catatan Referensi:
1. Journal of Traditional Chinese Medicine. "The Application of Foot Pressure in Tui Na Therapy". 2018
2. International Journal of Therapeutic Massage & Bodywork. "Efficacy of Barefoot Massage for Low Back Pain". Vol. 12, 2019
3. Journal of Bodywork and Movement Therapies. "History and Development of Ashiatsu Bar Therapy". 2020
(Red)



