Iklan

Iklan

,

Iklan

Datok Nurdin SAg, Penjaga Warisan Tengkulok Melayu Sumatera Timur

xtrens
Minggu, 19 Juli 2026, 21:34 WIB Last Updated 2026-07-19T14:34:24Z
Datok Nurdin SAg


MEDAN – Di tengah arus modernisasi yang membuat generasi muda kian jauh dari budaya tradisional, sosok Datok Nurdin SAg, bergelar Datok Sri Adikara Tengkulok Diraja, tampil sebagai pegiat budaya yang konsisten menjaga warisan kearifan lokal Melayu Sumatera Timur. Fokus pengabdiannya terpusat pada pelestarian tengkulok, mahkota khas lelaki Melayu.


Bagi Datok Nurdin, tengkulok bukan sekadar penutup kepala. Benda ini merupakan lambang kehormatan, jati diri, kebijaksanaan, serta nilai-nilai adat yang diwariskan turun-temurun. Ia menilai tengkulok adalah identitas budaya yang wajib terus dikenalkan kepada masyarakat agar tidak hilang ditelan zaman.


Wilayah budaya Melayu Sumatera Timur yang membentang dari Langkat hingga Kota Pinang menjadi ruang pengabdiannya. Melalui kegiatan edukasi, pelatihan melipat tengkulok, pameran budaya, hingga pertemuan adat, ia menyampaikan syiar kebudayaan dan memberikan tunjuk ajar mengenai filosofi, sejarah, serta teknik seni ikat kepala Melayu kepada berbagai kalangan.


Perjalanan melestarikan budaya itu tidak selalu mudah. Datok Nurdin mengaku pernah menghadapi tantangan, keterbatasan dana, bahkan cemoohan. Namun baginya, menjaga budaya adalah amanah yang harus ditunaikan dengan keikhlasan. “Warisan leluhur tidak akan tetap hidup tanpa ada generasi yang bersedia merawat dan memperjuangkannya,” ujarnya.


Keteguhan Datok Nurdin menjadi bukti bahwa pelestarian budaya membutuhkan kerja nyata, kesabaran, dan pengabdian berkelanjutan, bukan hanya wacana. Ia berharap semangatnya dapat menginspirasi generasi muda untuk mengenal, mencintai, dan melestarikan khazanah Melayu. Melalui kiprahnya, ia menegaskan tengkulok adalah simbol marwah Melayu yang patut dijaga, dihormati, dan diwariskan.


(Red)

Iklan