Iklan

Iklan

,

Iklan

Malam 27 Ramadhan: Membuat Pelita, Warisan Budaya Melayu

xtrens
Senin, 16 Maret 2026, 21:45 WIB Last Updated 2026-03-16T15:08:20Z


malam ke 27 bulan Ramadhan, masyarakat Melayu di Sumatra Utara



BATU BARA — Di malam ke 27 bulan Ramadhan, masyarakat Melayu di Sumatra Utara, khususnya di Kabupaten Batu Bara, merayakan malam ke-27 dengan ritual istimewa dengan pembuatan pelita.


Pelita, atau lampu minyak tradisional dari bambu, tempurung kelapa, atau daun kelapa, bukan sekadar penerang.


Ini melambangkan cahaya ilmu dan petunjuk dari Lailatul Qadar, malam turunnya Al-Quran yang diyakini jatuh pada tanggal tersebut.


Pengetahuan budaya Melayu menjadikan proses ini sebagai warisan leluhur, mengajarkan ketekunan, kesabaran, dan hubungan spiritual dengan alam.


Pembuatan pelita dimulai sore hari, saat matahari mulai condong ke barat, bahan utama diambil dari alam sekitar, seperti batang bambu dipotong sepanjang 30-50 cm, diisi minyak kelapa atau tanah liat sebagai pelita dasar.


Daun sirih dan kelapa dijahit rapi membentuk kerucut, dihiasi anyaman daun pandan untuk aroma harum. 


Masyarakat Melayu percaya, setiap anyaman melambangkan doa agar terang benderang hatinya di malam suci, Anak-anak diajari sejak dini, menjadikan ini pendidikan budaya yang menyenangkan.


Proses menyulut pelita dilakukan saat maghrib, dengan api dari kayu manis atau serai untuk wangi abadinya.


Pelita ditaruh di pinggir jalan, makam leluhur, atau masjid, pelita menyala sepanjang malam, menciptakan panorama indah seperti lautan cahaya.


Di Kabupaten Batu Bara, tradisi ini bernama "Pelita Qadar", di mana warga bergotong royong, bernyanyi lagu-lagu Melayu seperti "Buka Puasa" sambil berbagi takjil. Cahaya pelita diyakini mengusir kegelapan dosa dan mendekatkan diri pada ampunan Ilahi.


Makna mendalam pelita terletak pada filosofi Melayu: "Cahaya luar untuk terang batin." Malam 27 Ramadhan menjadi momen refleksi, di mana pengetahuan leluhur tentang harmoni alam dan agama diajarkan turun-temurun.


Di era modern, meski listrik menggantikan, pelita tetap lestari sebagai identitas budaya, melawan lupa terhadap akar Melayu.


Festival ini juga tarik wisatawan, mempromosikan pariwisata berkelanjutan di Sumatra.Hari ini, membuat pelita bukan hanya ritual, tapi panggilan pelestarian.


Dengan tantangan urbanisasi, generasi muda didorong ikut serta via media sosial seperti Instagram dan TikTok, membagikan tutorial dan cerita.


Tradisi ini mengingatkan kita, di balik gemerlap Ramadhan, ada cahaya menandakan simbol budaya Melayu yang bernilai harapan dan kebersamaan.


(R Ramadhan)

Iklan