BATU BARA — Komunitas Pecinta Alam (KPA) Rumah Relawan Kabupaten Batu Bara memperluas gerakan lingkungan, pendidikan, dan kemanusiaan di tahun 2026 dengan sejumlah program inovatif yang terserap ke berbagai desa dan kecamatan.
Mulai dari Desa Tali Air Permai, Kecamatan Nibung Hangus, yang mengembangkan praktik komposting dan eko‑enzim rumah tangga, hingga Kecamatan Medang Deras, Tanjung Tiram, dan Sei Balai yang fokus pada pembuatan sumur biopori dan sumur resapan, program ini diarahkan sebagai respons konkret terhadap banjir, pencemaran air, dan ketergantungan pada limbah organik.
Pendekatan ini bukan hanya teknis, tetapi juga menumbuhkan kesadaran warga untuk mengelola sampah dan memelihara tanah dari sumber.
Di sektor pendidikan, KPA Rumah Relawan menggelar seminar, sosialisasi, dan edukasi lingkungan hidup di sekolah‑sekolah se‑Kabupaten Batu Bara, didampingi aksi bersih sekolah (clean‑up) dan pelatihan pengelolaan sampah.
Program ini berjalan beriringan dengan Jambore Lingkungan Hidup di Desa Kuala Indah, Kecamatan Sei Suka, yang menjadi wadah kaderisasi generasi muda hijau melalui lomba, pelatihan, dan praktik lapangan. Tak hanya itu, komunitas tersebut juga menggandeng perusahaan sawit untuk memproduksi ECO‑brick dan eko‑polibeg, sehingga limbah plastik menjadi material konstruksi yang bermanfaat dan mengurangi beban sampah industri.
Selain itu, KPA Rumah Relawan menginisiasi program penanaman pohon holtikultura bersama komunitas Batubara Bertanjak, yang tidak hanya memperbaiki tutupan hijau tetapi juga meningkatkan ketersediaan pangan lokal dan potensi ekonomi warga. Program sosialisasi dan mitigasi kebencanaan untuk desa tangguh bencana juga digencarkan, mengedukasi masyarakat tentang risiko banjir, longsor, dan kebakaran hutan, sekaligus menguji kesiapsiagaan melalui rencana kontijensi dan pelatihan relawan.
Upaya ini menegaskan bahwa penanganan lingkungan dan bencana harus dimulai dari tingkat desa dan sekolah, bukan sekadar kebijakan top‑down.
Di bawah koordinasi Founder KPA Rumah Relawan, Ismail, seluruh kegiatan ini disatukan dalam pengabdian bertajuk “Pahlawan Lingkungan Hidup, Pendidikan, dan Kemanusiaan”, dengan target satu desa percontohan selama satu tahun. Program ini menekankan bahwa perubahan lingkungan tidak selalu datang dari skala besar, melainkan dari gerakan kecil yang konsisten, kolaboratif, dan berakar pada lokalitas.
Dengan menggabungkan ekologi, pendidikan, dan kemanusiaan, KPA Rumah Relawan Batu Bara berupaya menunjukkan bahwa di bawah bayang industri, masih ada ruang untuk desa tangguh, sekolah hijau, dan “pahlawan lingkungan” yang lahir dari keseharian masyarakat pinggiran.
(R Ramadhan)

