Iklan

Iklan

,

Iklan

Gondang, Tor-tor, dan Semangat Kebersamaan: Pesona Malam Batak Toba di PSBD Batu Bara

xtrens
Kamis, 06 November 2025, 14:05 WIB Last Updated 2025-11-06T07:05:28Z

 

Sepak Bola Kelurahan Indrasakti tampak berpendar hangat, memantulkan warna-warna cerah di wajah-wajah yang tersenyum


Suara gondang menggema di udara malam Kecamatan Air Putih, Rabu (5/11/2025). Dari kejauhan, lampu-lampu panggung di Lapangan Sepak Bola Kelurahan Indrasakti tampak berpendar hangat, memantulkan warna-warna cerah di wajah-wajah yang tersenyum. Malam itu, ratusan orang berkumpul dalam satu suasana: menikmati keindahan budaya Batak Toba dalam rangka Pekan Seni Budaya Daerah (PSBD) ke-VII Kabupaten Batu Bara.


Suasana yang semula hening berubah riuh ketika gondang mulai ditabuh. Nada-nadanya membangunkan kenangan kolektif, bukan hanya bagi masyarakat Batak Toba, tapi juga bagi seluruh warga Batu Bara yang hidup berdampingan dalam keberagaman etnis.


Malam yang Menghidupkan Tradisi


Sekitar pukul 21.00 WIB, acara dibuka dengan doa oleh Ustaz Saud Silalahi — sebuah simbol kebersamaan, di mana doa dan budaya berjalan berdampingan. Tak lama, Bupati Batu Bara, H. Baharuddin Siagian, S.H., M.Si., menerima tongkat panuluan dari perwakilan etnis Batak Toba — tanda penghormatan dan kepercayaan masyarakat kepada pemimpin daerah.


Setelah itu, Sanggar Simanungkalit mempersembahkan tarian Tor-tor, penuh energi dan makna. Setiap hentakan kaki dan gerakan tangan seolah menceritakan kisah panjang nenek moyang. Penonton yang memadati lapangan terpukau, beberapa di antaranya bahkan ikut bergoyang ringan mengikuti irama gondang.


“PSBD ini bukan sekadar hiburan. Ini adalah cara kita menjaga jati diri, mengenal saudara-saudara kita dari suku lain, dan menguatkan persaudaraan di tanah Batu Bara,” ujar Bupati Baharuddin dalam sambutannya. Ia juga mengajak masyarakat untuk terus menjaga semangat pembangunan dan menjauhi narkoba, terutama bagi generasi muda.


Kisah Sigale-gale dan Riuh Tawa Penonton


Salah satu momen paling berkesan malam itu adalah penampilan kisah legendaris Patung Sigale-gale. Dalam cahaya lampu temaram, patung kayu yang menyerupai manusia itu “menari” dengan gerakan lembut namun penuh makna. Kisah duka seorang raja yang kehilangan anaknya tersampaikan tanpa perlu kata-kata. Penonton terdiam sejenak, sebelum kemudian memberikan tepuk tangan panjang.


Tak hanya itu, Erik Sihotang, artis ibu kota berdarah Batak, turut memeriahkan acara. Dengan suaranya yang khas dan lagu-lagu bernuansa etnik modern, ia membuat suasana menjadi semakin hidup. Anak-anak muda berjingkrak di depan panggung, sementara para orang tua tersenyum bangga menyaksikan warisan budaya mereka diapresiasi dengan cara yang begitu hangat.


Keragaman yang Menyatukan


Malam itu, tidak hanya etnis Batak Toba yang hadir. Terlihat pula para ketua etnis lain di Kabupaten Batu Bara — dari Melayu, Jawa, Minang, Mandailing, hingga Tionghoa — duduk berdampingan, berbagi tawa dan cerita.


Kapolres Batu Bara AKBP Doly Nelson Hotasi Hasian Nainggolan, S.H., M.H., hadir bersama Kapolsek Indrapura AKP Reynold Silalahi, S.H., memastikan kegiatan berjalan aman dan lancar. “Budaya adalah kekuatan yang menyatukan, bukan memisahkan,” ujar salah seorang peserta dengan mata berbinar, menggambarkan semangat kebersamaan yang terasa malam itu.


Malam yang Berakhir dengan Hangat


Menjelang tengah malam, sekitar pukul 23.45 WIB, denting gondang terakhir terdengar. Namun semangat masyarakat belum juga surut. Mereka tetap bertahan, menikmati sesi hiburan penutup yang kembali dibawakan Erik Sihotang.


Saat lampu-lampu panggung mulai padam, wajah-wajah penonton masih tampak berseri. Ada rasa bangga, rasa memiliki, dan rasa rindu untuk terus menjaga warisan budaya di tengah arus modernisasi.


PSBD ke-VII Batu Bara bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah ruang pertemuan antara masa lalu dan masa depan, antara tradisi dan kemajuan, antara perbedaan dan persaudaraan.


Dan malam itu, di bawah langit Indrasakti yang tenang, Batu Bara membuktikan satu hal sederhana: bahwa keberagaman bukan alasan untuk terpisah — justru alasan untuk semakin erat.


(***)


Iklan