Iklan

Iklan

,

Iklan

"Tamadun Melayu Gerbang Dunia" Menjadi Alasan Tema Pemasyuran Majelis Kedatukan Melayu Batu Bara

xtrens
Selasa, 26 Mei 2026, 09:11 WIB Last Updated 2026-05-26T02:11:52Z


Majelis kedatukan Melayu batu bara


BATU BARA — Sejarawan dan arkeolog ASEAN sepakat menyebut Tamadun Melayu sebagai “Gerbang Dunia” dalam simposium maritim internasional di Museum Nasional.


Sebutan itu bukan sekadar slogan, melainkan fakta sejarah yang ditopang bukti: selama 1.500 tahun, Selat Melaka dan jaringan pelabuhan Melayu menjadi titik temu pedagang China, India, Arab, hingga Eropa. “Siapa kuasai Melaka, kuasai urat nadi dunia,” kata Prof. Hashim Musa, penulis buku _Tamadun Melayu Gerbang Dunia_, mengutip ucapan pelaut Portugis abad 16.


Bukti arkeologi memperkuat narasi itu. Temuan kapal Jong abad 14 di perairan Karimata, keramik Dinasti Tang di Palembang, dan manuskrip Jawi di Leiden menunjukkan betapa kosmopolitannya pelabuhan Melayu.


Pada puncak Kesultanan Melaka 1450-an, 84 bahasa dituturkan di pasar, cukai pelabuhan menyumbang 60% pendapatan negara, dan Undang-Undang Laut Melaka jadi rujukan hukum maritim Nusantara hingga kini. Pedagang Gujarat, pedagang lada Aceh, dan laksamana Cheng Ho semua singgah di “gerbang” yang sama: tanah Melayu.


Peran gerbang bukan hanya barang, tapi juga ilmu dan agama. Prasasti Kedukan Bukit membuktikan Srivijaya sudah jadi pusat studi Buddha abad 7, didatangi 1.000 biksu dari India dan China. Enam abad kemudian, Pasai dan Melaka mengirim ulama ke Jawa, Sulawesi, hingga Mindanao.


Bahasa Melayu lahir sebagai _lingua franca_ — surat Raja Portugal kepada Sultan Aceh 1511 pun ditulis dalam Melayu Jawi. “Tamadun Melayu tidak menutup pintu. Dia menyerap, menyaring, lalu menyebarkan kembali,” ujar Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, Dr. Hilmar Farid.


Warisan “gerbang dunia” itu masih hidup. Hari ini 40% perdagangan global senilai USD 3,5 triliun melintas Selat Melaka setiap tahun. UNESCO sudah mengiktiraf Pantun, Songket, dan kini mengkaji Hikayat Hang Tuah sebagai memori dunia.


Di Pelabuhan Tanjung Pelepas, kapal kontainer raksasa bersandar di tempat yang dulu dilabuhi jong Majapahit. “Dari rempah ke chip semikonduktor, jalurnya tetap sama: melalui gerbang Melayu,” kata Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan saat meresmikan Pameran Jalur Rempah 2026.


Namun gelar gerbang dunia juga jadi tantangan. Pakar maritim LIPI mengingatkan abrasi budaya dan dominasi narasi asing bisa membuat generasi muda lupa posisi historisnya. Karena itu, pemerintah Indonesia-Malaysia-Brunei sepakat memasukkan modul “Tamadun Melayu Gerbang Dunia” ke kurikulum SMA mulai 2027. 


“Kita bukan bangsa pinggiran. Kita pernah jadi pusat. Dan kita bisa jadi pusat lagi, kalau tahu sejarah,” tutup Gubernur Lemhannas Andi Widjajanto. Gerbang itu masih ada — tinggal siapa yang mau menjaganya.


(R Ramadhan)

Iklan