BATU BARA — Rujak, makanan tradisional Indonesia dari campuran buah dan sayur dengan bumbu pedas-manis-asam, kembali disorot karena dinilai sebagai jajanan yang ramah bagi kesehatan. Ahli gizi menyebut rujak sebagai "salad versi Indonesia" karena kaya serat, vitamin, dan antioksidan. Meski demikian, pakar menekankan bahwa manfaat kesehatan rujak sangat tergantung pada bahan, komposisi bumbu, dan kebersihan pengolahannya.
Berdasarkan rangkuman IAIN Bukittinggi yang mengutip jurnal Food Chemistry, rujak buah mengandung vitamin C, antioksidan, dan serat yang tinggi sehingga berperan menjaga imunitas dan kesehatan pencernaan. Buah seperti nanas, jambu, mangga muda, bengkuang, dan timun menjadi sumber serat utama. Sementara itu, bumbu dari cabai, gula merah, kacang, dan asam jawa juga memiliki manfaat. Capsaicin pada cabai dapat meningkatkan metabolisme, gula merah mengandung zat besi, dan kacang menyediakan protein nabati. Jurnal International Journal of Food Science and Nutrition juga menyebut konsumsi rujak secara teratur berpotensi menurunkan risiko penyakit jantung karena serat dan lemak sehatnya.
Namun sejumlah hal perlu diwaspadai. Penggunaan bumbu kacang dan gula merah berlebihan dapat membuat satu porsi rujak mencapai 300-500 kalori. Rujak dengan petis, terasi, atau garam berlebih juga memiliki kandungan sodium tinggi yang kurang baik bagi penderita darah tinggi. Skripsi UMS tahun 2016 tentang "Kelayakan Konsumsi Buah pada Rujak" menyoroti pentingnya kebersihan, karena bakteri koliform dapat muncul jika buah dan bumbu tidak diolah dengan baik. Selain itu, bagi penderita maag, kombinasi buah muda, cabai, dan asam saat perut kosong dapat memicu gangguan pencernaan. Data Riskesdas 2018 juga mencatat 95,5% penduduk Indonesia masih kurang konsumsi buah dan sayur.
Rujak bukan makanan baru. Wikipedia mencatat kata "rujak" berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti "campur-campur", dan hidangan ini pertama kali disebut Rurujak dalam Prasasti Taji tahun 901 M. Di era Kerajaan Majapahit, rujak sudah menjadi makanan rakyat hingga digunakan sebagai sesaji upacara adat. Dalam budaya Jawa, rujak bahkan menjadi bagian upacara Naloni Mitoni atau tujuh bulanan sebagai doa kelancaran persalinan. Secara filosofis, rujak mencerminkan "Bhinneka Tunggal Ika" karena berbagai rasa yang berbeda bersatu dalam satu sajian.
Saat ini terdapat ratusan variasi rujak di Nusantara, mulai dari Rujak Buah Jawa, Rujak Cingur Surabaya, Rujak Aceh, Rujak Manis Betawi, hingga Rujak Kuah Pindang dan Rujak Serut khas Sumatera Utara. Pakar kuliner menyarankan masyarakat mengonsumsi rujak 2-3 kali dalam seminggu dengan porsi bumbu secukupnya dan bahan yang bersih. Dengan cara tersebut, rujak dapat tetap menjadi bagian dari warisan budaya sekaligus pilihan camilan sehat bagi masyarakat.
Daftar Referensi Singkat:
1. IAIN Bukittinggi. 7 Manfaat Rujak Buah. Mengutip Food Chemistry & International Journal of Food Science and Nutrition
2. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Kelayakan Konsumsi Buah Pada Rujak. 2016
3. Wikipedia. Rujak. Prasasti Taji 901 M
4. Kemenkes RI. Riskesdas 2018
(Red)



