SULTENG — Raja Manggerante Bukanlah Seorang Raja Jin Di Wentira, Tapi Beliau Seorang Pejuang dan Tergolong Syeh , karena gara gara Pemalsuan Sejarah Selalu Dianggap Sosok Raja Mahluk Halus Gaib, Padahal Beliau Seorang Manusia Mukso, di Tanah Sulawesi Tengah, banyak anak didiknya zaman itu. Termasuk Tokoh Agama.
Sosok Datuk Karamah tersebut Taat Menjalankan Ibadah dan dikenal dekat dengan Presiden Soekarno.
Nama Raja Manggerante adala Pue Lasadindi atau Pue Asap dia adalah ulama dan pejuang kharismatik dari Sulawesi Tengah yang sering dikaitkan dengan mitos Wentira.
Ia dijuluki Mangge Rante karena kemampuannya menghilang saat dipenjara Belanda, sehingga konon tangannya harus dirantai.

Pue Lasadindi/Mangge Rante Dikenal sebagai ulama ideologis dan pejuang melawan kolonial. Ia sering disebut juga dengan nama Datu Karama.
Soal Kaitan dengan Wentira, Masyarakat menganggap Mangge Rante memiliki keterkaitan erat dengan mitos Wentira (kota tak kasat mata di Sulawesi Tengah).
Ia dianggap sebagai sosok sakti yang muncul di tengah masyarakat.
Julukan "Mangge Rante"
Dalam cerita Rakyat Manggerante (Orangtua Berantai Besi ) bahwa ia tidak bisa dipenjara konvensional. Saat dimasukkan penjara, ia bisa keluar kembali, yang membuatnya harus dirantai.
Cerita Rakyat, Raja Manggerante Wafat pada tahun 1958 dan dimakamkan di Desa Randomayang, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat, meskipun ia pejuang dari tanah Kaili, Sulawesi Tengah.
Tokoh pejuang dari Sulawesi Tengah ini aktif diusulkan menjadi Pahlawan Nasional, sering disebut bersamaan dengan tokoh pejuang lain seperti Tombolotutu dan lain sebagainya.
Banyak juga beranggapan Tuan Paduka Raja Manggerante, tidak pernah meninggal tapi mukso, kapan saja Tokoh Aulia ini sering muncul, untuk mendatangi orang orang tertentu.
Sebenarnya Ulama di Sulawesi Tengah Ada 2 , Bisa dimasukan sejarah.
Syeh Datuk Karama Manggerante dan KH Idrus Al Jufri, hanya sejarah saja mempolitisir bahwa Manggerante bukan berwujud manusia, tapi Raja Ghaib.
(Agus)


